Pages

Minggu, 01 April 2012

Kisah Sepenggal Cerita


Jalan masuk desa Gunungsari itu masih sama seperti 20 tahun yang lalu, gapura desa yang tersusun dari batu-bata masih terlihat kokoh bedanya hanya sekarang di bawah gapura desa itu mulai ditumbuhi ilalang-ilalang yang kering karena memang saat ini adalah musim kemarau. Parmin mulai melangkahkan kakinya  masuk melewati gapura desa itu, beriringan drngan langkah kaki parmin daun-daun pohon  jati  yang ada di samping kiri dan kanan jalan berjatuhan tertiup angin. Parmin sejenak menghentikan langkah kakinya tepat di bawah salah satu pohon jati, memori masa kecilnya seakan terulang ketika parmin melihat pohon jati yang memang terlihat berbeda dari pohon jati lain yang ada disepanjang jalan masuk desa itu, pohon jati itu terlihat unik karena bercabang seperti membentuk huruf  Y. parmin mengingat kembali masa kecilnya ketika ia dan salah seorang teman akrabnya yang bernama parjo sering memanjat pohon jati itu untuk mengambil daunya dan kemudian dijual kepasar pahing, pasar pahing merupakan pasar kecil  yang pada hari-hari biasa terlihat sangat sepi karena memang hanya rame pada hari pahing saja. Parmin ingat betul dengan perkataan Parjo  saat mereka sering bersama-sama mengambil daun jati, Parjo sering berujar bahwa dia kelak ingin menjadi juragan daun jati. Parmin tersenyum sendiri ketika mengingat perkataan kawan akrabnya itu, memang pada waktu mereka masih kecil dahulu hasil uang yang di dapat dari menjual daun pohon jati sudah mereka anggap banyak jadi pantas saja jika muncul angan atau cita-cita Parjo untuk menjadi juragan daun jati. Seketika lamunan Parmin terhenti karena dengan tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, seketika itu juga Parmin langsung menoleh kebelakang. Namun wajah parmin sontak terlihat bingung ketika memandang orang yang menepuknya tadi, parmin merasa tidak kenal dengan orang itu namun hatinya bergejolak  seakan –akan dia pernah mengingat sesuatu tentang orang itu di masa lalu. Parmin langsung ingat ketika dia melihat tanda bekas luka di dahi orang yang menepuknya tadi, dia adalah Tono. Tono juga merupakan teman masa kecil Parmin, dia seumuran warga itu sia-sia karena Tono selalu berhasil menghilang. Tono sebetulnya adalah anak yang normal bahkan baik hati, namun sikapnya berubah total setelah kedua orang tuanya meninggal karena sebuah bencana banjir bandang di desa Gunungsari, semenjak itu Tono menjadi anak yang pendiam dan sering mengurung diri. Desa Gunungsari merupakan desa yang memang rawan bencana  karena letaknya yang tepat dengan Parmin dan Parjo. Dulu Tono sering dianggap aneh oleh warga desa karena Tono sering tidak diketahui keberadaanya oleh warga, beberapi hari tono menghilang dari desa namun dia kembali kedesa beberapa hari kemudian. Pernah suatu ketika Tono menghilang dari desanya berminggu-minggu hingga warga desa beranggapan bahwa Tono telah meninggal namun anggapan warga itu salah besar karena keesokan harinya Tono kembali lagi kedesa. Karena penasaran warga pernah dengan sengaja mengikuti kemana Tono pergi namun upaya dibawah perbukitan jadi jika hujan deras turun berhari-hari warga selalu mengungsi keluar desa karena takut adanya banjir bandang. Warga beranggapan terjadinya banjir bandang itu karena terlalu banyaknya pohon diperbukitan yang diambil secara illegal oleh cukong-cukong kayu. Warga tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah hal itu karena mereka sadar bahwa mereka adalah orang kecil yang kalaupun mereka mengajukan protes pasti suara mereka tidak akan didengar oleh pemerintah karena telinga pemerintah telah tersumbat oleh uang haram para cukong kayu itu.
                            Suatu ketika Parmin dan Parjo butuh uang untuk membeli buku sekolah, karena itu mereka memutuskan untuk pergi mengambil daun pohon jati untuk di jual, namun setelah sampai di lokasi pohon jati itu mereka harus kecewa karena daun-daun pohon jati yang mereka harapkan tidak ada, mungkin ada orang yang telah dating dan mengambil daun pohon jati itu sebelum mereka. Karena butuh sekali uang Parmin dan Parjo memutuskan untuk masuk hutan mungkin di hutan ada banyak pohon jati yang bisa di ambil daunya. Setelah agak masuk kedalam hutan betapa terkejutnya Parmin dan Parjo melihat kondisi hutan yang terlihat sangat rimbun diluar ternyata didalam kondisinya sangat memprihatinkan karena banyak bekas-bekas tebangan pohon yang dilakukan secara illegal. Parmin dan Parjo merasa sedih melihat kondisi itu, tiba tiba Parmin mendengar ada suara di balik hutan itu, suara itu seperti suara orang yang sedang mencangkul. Karena penasaran Parmin mengajak Parjo untuk melihat ada apa di balik hutan itu. Dan benar dugaan Parmin ada seseorang yang sedang mencangkul setelah didekati ternyata orang itu adalh Tono, Sontak Parmin dan Parjo terkejut melihat Tono mencangkul sendirian di balik hutan. Kemudian Parjo memberanikan diri untuk bertanya kepada Tono kenapa dia mencangkul sendirian disitu. Dengan pelan Tono menjawab bahwa dia akan membuat bendungan di situ agar desanya tidak terus menerus dilanda oleh bencana banjir bandang, jadi selama ini Tono sering menghilang dari desa untuk membuat bendungan dengan upayanya sendiri. Ternyata Tono anak yang yang dianggap oleh warga desa adalah anak yang aneh ternyata memiliki harapan besar agar desanya bisa terbebas dari ancaman bencana. Seketika itu juga Parmin langsung bergegas kembali kedesa dan memberitahu apa yang sedang dilakukan Tono kepada warga desa. Warga desa kemudian bergegas untuk pergi dan membantu Tono membuat bendungan. Sejak saat itu desa Gunungsari menjadi desa yang terbebas dari ancaman banjir bandang berkat inisiatif Tono dan kerja keras semua warga desa untuk membangun sebuah bendungan. Itulah Tono, ternyata kebiasaanya dari kecil yang sering mengagetkan orang dengan menepuk pundaknya masih belum hilan juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar