Jalan
masuk desa Gunungsari itu masih sama seperti 20 tahun yang lalu, gapura desa
yang tersusun dari batu-bata masih terlihat kokoh bedanya hanya sekarang di
bawah gapura desa itu mulai ditumbuhi ilalang-ilalang yang kering karena memang
saat ini adalah musim kemarau. Parmin mulai melangkahkan kakinya masuk melewati gapura desa itu, beriringan
drngan langkah kaki parmin daun-daun pohon
jati yang ada di samping kiri dan
kanan jalan berjatuhan tertiup angin. Parmin sejenak menghentikan langkah
kakinya tepat di bawah salah satu pohon jati, memori masa kecilnya seakan
terulang ketika parmin melihat pohon jati yang memang terlihat berbeda dari
pohon jati lain yang ada disepanjang jalan masuk desa itu, pohon jati itu
terlihat unik karena bercabang seperti membentuk huruf Y. parmin mengingat kembali masa kecilnya
ketika ia dan salah seorang teman akrabnya yang bernama parjo sering memanjat
pohon jati itu untuk mengambil daunya dan kemudian dijual kepasar pahing, pasar
pahing merupakan pasar kecil yang pada
hari-hari biasa terlihat sangat sepi karena memang hanya rame pada hari pahing
saja. Parmin ingat betul dengan perkataan Parjo
saat mereka sering bersama-sama mengambil daun jati, Parjo sering berujar
bahwa dia kelak ingin menjadi juragan daun jati. Parmin tersenyum sendiri
ketika mengingat perkataan kawan akrabnya itu, memang pada waktu mereka masih
kecil dahulu hasil uang yang di dapat dari menjual daun pohon jati sudah mereka
anggap banyak jadi pantas saja jika muncul angan atau cita-cita Parjo untuk
menjadi juragan daun jati. Seketika lamunan Parmin terhenti karena dengan tiba
tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, seketika itu juga
Parmin langsung menoleh kebelakang. Namun wajah parmin sontak terlihat bingung
ketika memandang orang yang menepuknya tadi, parmin merasa tidak kenal dengan
orang itu namun hatinya bergejolak
seakan –akan dia pernah mengingat sesuatu tentang orang itu di masa
lalu. Parmin langsung ingat ketika dia melihat tanda bekas luka di dahi orang
yang menepuknya tadi, dia adalah Tono. Tono juga merupakan teman masa kecil
Parmin, dia seumuran warga itu sia-sia karena Tono selalu berhasil menghilang.
Tono sebetulnya adalah anak yang normal bahkan baik hati, namun sikapnya
berubah total setelah kedua orang tuanya meninggal karena sebuah bencana banjir
bandang di desa Gunungsari, semenjak itu Tono menjadi anak yang pendiam dan
sering mengurung diri. Desa Gunungsari merupakan desa yang memang rawan
bencana karena letaknya yang tepat
dengan Parmin dan Parjo. Dulu Tono sering dianggap aneh oleh warga desa karena
Tono sering tidak diketahui keberadaanya oleh warga, beberapi hari tono
menghilang dari desa namun dia kembali kedesa beberapa hari kemudian. Pernah
suatu ketika Tono menghilang dari desanya berminggu-minggu hingga warga desa
beranggapan bahwa Tono telah meninggal namun anggapan warga itu salah besar
karena keesokan harinya Tono kembali lagi kedesa. Karena penasaran warga pernah
dengan sengaja mengikuti kemana Tono pergi namun upaya dibawah perbukitan jadi
jika hujan deras turun berhari-hari warga selalu mengungsi keluar desa karena
takut adanya banjir bandang. Warga beranggapan terjadinya banjir bandang itu
karena terlalu banyaknya pohon diperbukitan yang diambil secara illegal oleh
cukong-cukong kayu. Warga tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah hal itu
karena mereka sadar bahwa mereka adalah orang kecil yang kalaupun mereka
mengajukan protes pasti suara mereka tidak akan didengar oleh pemerintah karena
telinga pemerintah telah tersumbat oleh uang haram para cukong kayu itu.
Suatu ketika Parmin
dan Parjo butuh uang untuk membeli buku sekolah, karena itu mereka memutuskan
untuk pergi mengambil daun pohon jati untuk di jual, namun setelah sampai di
lokasi pohon jati itu mereka harus kecewa karena daun-daun pohon jati yang
mereka harapkan tidak ada, mungkin ada orang yang telah dating dan mengambil
daun pohon jati itu sebelum mereka. Karena butuh sekali uang Parmin dan Parjo
memutuskan untuk masuk hutan mungkin di hutan ada banyak pohon jati yang bisa
di ambil daunya. Setelah agak masuk kedalam hutan betapa terkejutnya Parmin dan
Parjo melihat kondisi hutan yang terlihat sangat rimbun diluar ternyata didalam
kondisinya sangat memprihatinkan karena banyak bekas-bekas tebangan pohon yang
dilakukan secara illegal. Parmin dan Parjo merasa sedih melihat kondisi itu,
tiba tiba Parmin mendengar ada suara di balik hutan itu, suara itu seperti
suara orang yang sedang mencangkul. Karena penasaran Parmin mengajak Parjo untuk
melihat ada apa di balik hutan itu. Dan benar dugaan Parmin ada seseorang yang
sedang mencangkul setelah didekati ternyata orang itu adalh Tono, Sontak Parmin
dan Parjo terkejut melihat Tono mencangkul sendirian di balik hutan. Kemudian
Parjo memberanikan diri untuk bertanya kepada Tono kenapa dia mencangkul
sendirian disitu. Dengan pelan Tono menjawab bahwa dia akan membuat bendungan
di situ agar desanya tidak terus menerus dilanda oleh bencana banjir bandang,
jadi selama ini Tono sering menghilang dari desa untuk membuat bendungan dengan
upayanya sendiri. Ternyata Tono anak yang yang dianggap oleh warga desa adalah
anak yang aneh ternyata memiliki harapan besar agar desanya bisa terbebas dari
ancaman bencana. Seketika itu juga Parmin langsung bergegas kembali kedesa dan
memberitahu apa yang sedang dilakukan Tono kepada warga desa. Warga desa
kemudian bergegas untuk pergi dan membantu Tono membuat bendungan. Sejak saat
itu desa Gunungsari menjadi desa yang terbebas dari ancaman banjir bandang
berkat inisiatif Tono dan kerja keras semua warga desa untuk membangun sebuah
bendungan. Itulah Tono, ternyata kebiasaanya dari kecil yang sering mengagetkan
orang dengan menepuk pundaknya masih belum hilan juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar